SinarbangsaNews.com, Tulang Bawang — Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya curah hujan ekstrem dan kejadian banjir pada akhir tahun 2024 hingga awal 2025 berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Kamis, (18/12/2025)
Salah satu dampak yang menjadi perhatian serius adalah meningkatnya risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit menular berbasis lingkungan dan vektor.
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Lampung, Ghina Gabrilla Yusuf, menyampaikan bahwa kondisi iklim ekstrem tersebut berkontribusi langsung terhadap meningkatnya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. Curah hujan tinggi yang disertai banjir menyebabkan genangan air bertahan lebih lama di lingkungan permukiman, terutama di wilayah dengan sistem drainase yang belum optimal.
“Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan fisik, tetapi juga memperbesar risiko penyakit menular berbasis vektor seperti DBD. Kondisi pascabanjir menjadi periode yang sangat rentan terhadap peningkatan kasus,” ujarnya.
Berdasarkan data kesehatan tahun 2025, Kabupaten Tulang Bawang mencatat adanya peningkatan kasus DBD pada periode awal tahun seiring dengan tingginya intensitas hujan di akhir tahun sebelumnya. Genangan air di pekarangan rumah, wadah penampungan air yang tidak tertutup, serta pengelolaan sampah yang belum optimal menjadi faktor lingkungan yang mempercepat penyebaran vektor DBD.
Ghina menjelaskan, secara geografis wilayah Tulang Bawang merupakan daerah dataran rendah yang dilalui aliran sungai sehingga rentan terhadap banjir musiman. Ketika banjir terjadi, kualitas sanitasi lingkungan cenderung menurun dan upaya pengendalian sarang nyamuk menjadi lebih sulit jika tidak disertai kesiapsiagaan masyarakat.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, pengendalian DBD perlu dilakukan melalui pendekatan kesehatan lingkungan yang komprehensif. Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dinilai tetap menjadi strategi utama, khususnya pada masa pascabanjir. Selain itu, pemberdayaan masyarakat melalui gerakan satu rumah satu jumantik serta perbaikan sistem drainase lingkungan menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan.
“Pengendalian DBD tidak dapat bergantung pada fogging semata. Upaya preventif berbasis lingkungan dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci agar pengendalian penyakit ini bersifat berkelanjutan,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara dinas kesehatan, dinas lingkungan hidup, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam merespons dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Menurutnya, adaptasi kebijakan kesehatan terhadap perubahan iklim perlu diperkuat agar daerah memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi peningkatan risiko penyakit berbasis lingkungan di masa mendatang.
Kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan akademik sekaligus bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pengendalian DBD yang adaptif terhadap perubahan iklim, khususnya di wilayah rawan banjir seperti Kabupaten Tulang Bawang.
Penulis: Ghina Gabrilla Yusuf
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Lampung










