Capaian Screening Lampaui Target, Dinkes Bandar Lampung Perkuat Strategi Eliminasi HIV 2030

banner 468x60
Listen to this article

Bandar Lampung, Sinarbangsanews.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung menegaskan bahwa meningkatnya angka temuan kasus HIV merupakan hasil dari strategi deteksi aktif yang masif, bukan lonjakan wabah baru. Melalui pendekatan jemput bola dan perluasan screening, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bahkan melampaui target hingga 119 persen.

Tingginya angka temuan kasus HIV di Kota Bandar Lampung belakangan ini bukan menjadi sinyal darurat wabah baru. Sebaliknya, hal tersebut merupakan indikator keberhasilan Dinas Kesehatan dalam mengungkap kasus yang sebelumnya tersembunyi atau dikenal sebagai fenomena “gunung es”.

Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinkes kini menerapkan strategi jemput bola dengan turun langsung ke berbagai lokus prioritas. Hasilnya, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk penapisan (screening) HIV berhasil melampaui target hingga lebih dari 119 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menegaskan bahwa tingginya angka temuan justru menunjukkan keberhasilan pelacakan dan upaya mitigasi.
“Jika capaian sudah di atas 100 persen, artinya mitigasi risiko keberlanjutan penyebaran sudah kita tangani. Ini bukan darurat, melainkan bukti keseriusan kita memutus mata rantai penularan menuju target Eliminasi HIV 2030,” tegasnya.

Dalam pelaksanaannya, Dinkes memfokuskan screening terhadap delapan kelompok indikator SPM, yakni ibu hamil, penderita TBC, penderita Infeksi Menular Seksual (IMS), Wanita Pekerja Seksual (WPS), Lelaki Seks Lelaki (LSL), waria, Pengguna Narkoba Suntik (Penasun), serta Warga Binaan Pemasyarakatan.

Terkait temuan reaktif, termasuk 227 kasus pada kelompok LSL, pihak Dinkes menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil kerja aktif petugas di lapangan. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan akses pengobatan sehingga potensi penularan dapat ditekan.

Khusus ibu hamil, Dinkes menerapkan program Triple Eliminasi secara gratis. Setiap ibu hamil menjalani screening HIV, sifilis, dan hepatitis guna mencegah penularan dari ibu ke bayi.

Untuk layanan pengobatan, sebanyak 31 puskesmas di Bandar Lampung telah menyediakan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP). Dinkes juga menerapkan strategi Fast Track 95-95-95, yakni 95 persen Orang Dengan HIV (ODHIV) terdiagnosis, 95 persen mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV), dan 95 persen mencapai supresi virus.

“Pasien yang rutin minum obat sesuai dosis dapat menekan jumlah virus dalam tubuhnya. Dengan kondisi tersupresi, virus tidak lagi mudah menular dan harapan hidup tetap panjang serta produktif,” jelasnya.

Selain itu, untuk menjangkau lokus khusus seperti tempat hiburan malam, Dinkes menggandeng lintas sektor, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, Babinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga komunitas Indonesia AIDS Coalition (IAC).
Pemerintah Kota Bandar Lampung juga menjamin kerahasiaan identitas pasien secara ketat dengan sistem by name by address yang terlindungi.

Dinkes mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh hoaks terkait HIV. Virus ini tidak menular melalui pelukan, sentuhan, berbagi alat makan, percakapan, maupun penggunaan toilet umum. Penularan terjadi melalui kontak darah, hubungan seksual tidak aman, serta dari ibu positif ke anak yang dikandungnya. (*)

banner 300x250
Bagikan berita ini:

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses